Friday, August 28, 2015

SURGA DALAM SEKARUNG BOTOL



Di atas jalanan beraspal yang panas akibat terik matahari siang, langkah pemuda yang berkarung setumpuk botol bekas di sisi Jalan Rawamangun Muka itu, sesekali dipercepat teriring jingkatan kakinya. Yusuf, nama pemuda itu.

Harapan manusia sering kali tak sejalan dengan kenyataan hidup. Yusuf, berwajah tak rupawan seperti Nabi Yusuf Alaihi Salam, namun selalu ada lekukan senyum yang menambah guratan rasa syukur dari wajah kusamnya.

Yusuf, sosok yang tak banyak bicara. Setiap kali ia melintasi areal pemakaman di daerah Rawamangun Muka, ia hanya sering kali berdiri mematung di depan gerbang pemakaman. Karung yang berisi botol-botol bekas yang dipanggulnya sepanjang perjalanan, ia taruh di sisi kakinya. Cukup beberapa menit saja ia mematung, dan tak lama ia menyapukan telapak tangannya ke wajahnya dan berkata "Aamiin" dalam suara lirihnya.

Pernah suatu ketika, ketika ia selesai mematung di depan gerbang pemakaman, seorang pria paruh baya yang memiliki kios tambal ban di dekat areal pemakaman itu bertanya kepada Yusuf. Mengapa ia selalu rutin berdiri mematung di depan gerbang untuk beberapa menit. Yusuf hanya menjawab dengan wajah menunduk. Katanya, "Aku mendoakan saudara-saudaraku agar Tuhan mengampuni segala kekurangan diri mereka selama di dunia."

Pria paruh baya itu pun hanya mengerutkan keningnya mendengar jawaban Yusuf, yang hanya seorang pencari botol bekas - yang sering melintas di depan kios tambal bannya.

"Kau kenal dengan banyak orang yang dikuburkan di tanah pemakaman ini?" kata pria paruh baya itu di waktu lain kepada Yusuf.

Yusuf hanya menggeleng dan menjawab singkat, "tidak", katanya. Yusuf malah berkata, di Jakarta ia hanya hidup sendirian. Ia tidur di selasar mesjid atau musala yang ia temui di jalan, jika rasa kantuk telah hinggap menempel di kedua matanya.

Sering kali pria paruh baya itu memberikan Yusuf sebungkus nasi dengan lauk seadanya - berharap Yusuf merasa kenyang setelah memakan nasi bungkus darinya. Yusuf tak pernah meminta. Ia hanya menerima jika diberi. Sekali pun ditawari, Yusuf sering kali menolak. Ia tak terlalu suka menceritakan kepada orang-orang yang dikenalnya bahwa ia memang sering menahan lapar. Ia hanya suka bekerja terlebih dulu untuk mendapatkan haknya.

* * *

Jumat pagi itu, udara di sekitar Rawamangun Muka terasa sejuk. Belum terlalu banyak metromini melintas di sepanjang jalan raya itu. Kendaraan beroda empat pun belum terlalu memenuhi jalanan. Pagi itu, masih pukul empat dini hari. Kios-kios di sekitar Jalan Rawamangun Muka belum banyak yang buka. Hanya beberapa saja, seperti warung nasi Ceu Rina, dan kios tambal ban milik Bang Togar, pria paruh baya, yang bisa dibilang sering mengobrol dengan Yusuf.

"Ceu, sudah ada lauk apa?" tanya Bang Togar di pagi subuh itu kepada Ceu Rina yang masih sibuk menggoreng tempe di sudut warung.

"Baru ayam, lele, sama sop. Mau?" jawab Ceu Rina dari balik bilik tempatnya memasak.

"Iya, dua bungkus. Nasi pakai lele saja. Tambah teh manis hangat diplastikin ya! Aku tunggu di luar warung." kata Bang Togar sambil menaruh selembar uang lima puluh ribuan di meja warung nasi milik Ceu Rina.

"Si Yusuf dua hari ini tidak kelihatan. Ke mana dia? Pulang kampung? Jadi dua puluh ribu semuanya. Nih, kembali tiga puluh ribu." tanya Ceu Rina sambil menyerahkan plastik hitam berisi dua bungkus nasi pesanan Bang Togar.

"Aku juga tak tahu Yusuf ke mana. Dia tak punya kampung. Entah, hati ini kenapa rasa rindu sekali padanya. Padahal ia bukan siapa-siapaku. Kau tahu kan itu, Ceu? Awal kali bertemu saja aku sedikit muak karena ku pikir ia sok jadi orang susah dengan tampang wajah memelas khasnya." jawab Bang Togar serius.

Dalam keremangan di Jumat subuh pagi itu, tiba-tiba mata Bang Togar dan Ceu Rina menangkap sesosok pria lusuh yang berjalan ke arah mereka. Yusuf? Sepertinya bukan. Tapi ada karung yang biasa dipanggulnya sehari-hari.

"Ah, kau siapa? Itu karung botolnya Yusuf, kan?" tanya Bang Togar spontan ketika pria lusuh itu mulai mendekat ke arah dirinya. "Ke mana si Yusuf?" tanyanya lagi.

Pria lusuh itu terdiam. Hanya menatap sesaat mata Bang Togar dan berusaha menatap mata Ceu Rina yang seolah menyiratkan pertanyaan yang sama seperti pertanyaan Bang Togar.

"Maaf, Pak. Aku tidak tahu. Aku mau pergi cari botol bekas." Pria lusuh itu mencoba menerobos Bang Togar dan Ceu Rina yang ada di hadapannya.

"Eh - eh... tunggu dulu kata ku. Aku tadi tanya tentang Yusuf mengapa kau gugup sekali? Kau siapanya Yusuf? Itu karung botol milik Yusuf, kan? Jawablah. Tak jawab, ku hajar kau sekali tonjok mukamu bonyok." ancam Bang Togar tak sungguh-sungguh. Hanya sekedar menghardik pria lusuh itu agar menjawab pertanyaannya.

"Yusuf...dua hari yang lalu ditikam oleh preman, Pak. Preman itu melintas di depan halte tak jauh dari tempat penyetoran botol bekas milik bos kami. Di daerah Rawasari. Yusuf sempat dibawa ke Rumah Sakit Persahabatan. Yusuf kekurangan darah dan hari itu stock darah yang sesuai dengan darah Yusuf tidak ada. Pendonor darah B yang memiliki rhesus negatif tidak ditemukan. Yusuf...," ucap pria lusuh itu semakin lirih dan tak lama kepalanya menengadah ke langit subuh pagi itu.

"Yusuf...sekarang sudah tidak ada? Yusuf yang selalu mendoakan para manusia yang telah terkubur di areal pemakaman itu, sudah tidak ada? Yusuf...," ucap Bang Togar tanpa mampu menahan air matanya yang deras seperti hujan di Kamis malam kemarin yang mengguyur Jalan Rawamangun Muka.

"Yusuf...Yusuf...Ceu Rina teh rindu. Pantas dua hari ini saya ingin masak ikan lele terus. Lauk kesukaannya...," Ceu Rina mencoba menahan air mata, namun ia juga tak kuasa.

"Di mana ia dimakamkan? Aku ingin ke sana. Kau antar aku sekarang." tanya Bang Togar pada pria lusuh berkarung botol bekas milik almarhum Yusuf.

"Di areal pemakaman itu, Pak. Hari Kamis pagi ia dimakamkan. Biaya pemakaman semua ditanggung oleh bos kami. Yusuf orangnya baik dan tak banyak tingkah. Bos kami sangat percaya pada Yusuf. Mobil jenazah yang lewat di depan kios tambal ban kemarin, itu mobil jenazah yang membawa Yusuf. Sebelum meninggal, ia berpesan pada bos kami untuk dimakamkan di areal pemakaman ini agar bisa bertetangga dengan orang-orang yang ia doakan dulu. Dan...," ucapan pria lusuh itu tiba-tiba terputus.

"Dan apa katamu? Ayo lanjutkan...," tanya Bang Togar penasaran.

"Dan, supaya Bapak dan Ibu tetap dekat dengan Yusuf. Yusuf bilang padaku jangan beritahu Bang Togar dan Ceu Rina jika ia meninggal nantinya. Aku hanya boleh memberitahu jika tak sengaja melewati kios milik Bapak dan warung nasi milik Ibu. Aku tahu Bapak dan Ibu adalah Bang Togar dan Ceu Rina. Aku tahu itu karena hanya Bapak dan Ibu yang dekat dengannya di sekitar Jalan Rawamangun Muka ini." jawab pria lusuh itu menuntaskan rasa penasaran Bang Togar.

* * *

"Yusuf, aku akan meneruskan kebiasaanmu di depan gerbang pemakaman itu. Mendoakan orang-orang yang telah terkubur di tanah itu. Mendoakan agar Tuhan menjadikanmu penghuni surganya. Mendoakan agar orang-orang yang memanggul karung botol bekasmu, juga membawa kedamaian surga dunia seperti wajahmu. Yusuf, aku tak bisa makan lele bersamamu lagi. Tapi, aku janji akan meneruskan hal ini kepada temanmu yang bersedia memanggul karung botol bekasmu. Meski bercak darahmu menjadi kenangan di guratan benang-benang karungmu." ucap Bang Togar di sisi nisan bertuliskan nama Yusuf bin Tohir.

Ceu Rina hanya mampu menunduk. Doa-doanya untuk Yusuf ia hantarkan dalam hatinya. Langit cerah di Jumat pagi itu mulai menyapa daerah Rawamangun Muka. Secerah senyum dari wajah kusam Yusuf yang memberikan kedamaian bagi orang-orang yang mengenal dirinya.

Yusuf.
Sosok yang memperlihatkan bahwa surga milik Tuhan sudah ada di dunia ini. Cahaya surga itu terpancar dari wajah-wajah yang membawa keikhlasan untuk sesamanya. Cahaya surga itu terpancar dari lekuk senyum wajah-wajah yang mendoakan akan kebaikan untuk sesamanya meski tak saling mengenal.

Oleh :

Dhinar A. Fitriany

Jakarta, 28 Agustus 2015, 14:39 WIB

2 comments:

belajarbuat blog said...

Bagus ceritanya. Apakah ini kisah nyata?

DHINAR A FITRIANY said...

Wah...terima kasih Rachmat sudah membaca blog saya. Jadi terharu dibaca oleh mahasiswaku sendiri hehee. Ini cerita fiksi kok, dari imajinasi saya. Memang, saya sengaja mengambil latar tempat yang saya tahu betul seluk-beluknya agar saya bisa mengekspresikan isi cerita saya secara detil. :)