Friday, July 20, 2012

Menghargai Orang Lain. Tidak Keluar Uang, Tapi Sangat Sulit Dilakukan.

Assalamualaikum,
Setelah beberapa bulan saya tidak menyentuh blog saya, akhirnya hari ini saya baru punya waktu luang untuk menulis post kembali di blog saya ini. Kali ini saya terdorong untuk menulis hal yang mungkin terkadang juga sering terjadi kepada diri kita maupun diri orang lain di sekitar kita. Tentang menghargai orang lain.

Mungkin, kita juga sering khilaf dalam hal itu. Di sini, saya tidak akan membicarakan rasa menghargai dari sisi orang lain kepada kita. Akan tetapi, saya akan berbagi cerita tentang rasa menghargai dari sisi kita kepada orang lain. Mengapa saya memilih berbagi cerita tentang menghargai dari sisi kita kepada orang lain? Karena, menurut saya jika kita selalu melihat dari sisi orang lain kepada kita, selamanya kita tidak akan pernah belajar melihat diri kita sendiri kepada orang lain.

Menghargai orang lain.
Apakah hari ini kita sudah bisa menghargai orang lain? Terutama perasaannya?
Apakah hari ini kita sudah bisa menghargai keberadaan orang lain dalam kehidupan kita?
Apakah hari ini kita sudah bisa menghargai ketulusan orang lain kepada kita?
Apakah hari ini kita sudah bisa menghargai keramahan orang lain kepada kita?

Pertanyaan-pertanyaan itu selalu terjadi di hari-hari kita. Tak luput juga kita mungkin khilaf dengan yang disebut menghargai perasaan orang lain. Kenapa Tuhan mengamanahkan kepada kita hamba-Nya untuk saling mengasihi dengan sesama manusia? Sangat banyak interpretasi orang dalam menjawab pertanyaan tersebut. Namun, bagi saya pribadi, dengan kita saling mengasihi terhadap sesama manusia, kita akan menemukan suatu kebahagiaan batin tersendiri.

Di sini, bukan maksud saya untuk menggurui pembaca sekalian. Akan tetapi, saya hanya ingin mengajak pembaca sekalian untuk bisa mengintrospeksi diri kita masing-masing. Saya pun juga begitu. Saya rasa pembaca mungkin pernah melakukan hal seperti yang saya tulis di bawah ini, jika tidak pernah melakukan, Alhamdulilah wa syukurilah…

-  Menganggap mengucapkan terima kasih kepada tukang sampah di kompleks kita setelah memberikan sampah rumah kita kepada tukang sampah itu, tidak perlu dilakukan.
-  Memberikan uang kertas yang sudah belel kepada pengemis di jalan (dikuwel-kuwel sampai lecek).
-  Menganggap hasil karya orang lain itu tidak berbobot? Padahal orang tersebut sudah mengerjakan berhari-hari demi memberikan yang terbaik kepada kita?
-  Menginjak lantai yang sedang dipel oleh office boy di sekolah, kampus, mall, tanpa mengatakan “Permisi, maaf yah Mas/Mbak saya lewat dulu sebentar boleh?Terima kasih yah…”
-  Menganggap mengucapkan terima kasih kepada pelayan restaurant itu hal yang tidak penting untuk dilakukan.
-  Karena kita terkenal di lingkungan, dengan itu kita malas berteman dengan orang yang terlihat biasa saja (tidak terkenal seperti kita).
-  Kita bekerja di rumah sakit, kita dokter yang dikenal masyarakat karena keahlian kita di bidang xxx. Lantas, sikap kita sangat berbeda sekali kepada pasien dengan ekonomi atas dan pasien ekonomi menengah, serta bawah? Kita bisa ketawa-ketawa dengan pasien yang kaya, tapi kita buru-buru memeriksa saat bersama pasien yang biasa saja?
-  Karena ekonomi kita lebih tinggi dari supir taksi, lantas kita benar-benar menganggap dirinya ‘supir’ seutuhnya? Dalam arti, kalau salah jalan, lantas kita omelin, kalau macet, lantas kita marahi kenapa lewat jalan macet.
-  Tetap meminta uang kembalian dari tukang jualan, meski kurang seratus rupiah. Pokoknya kembaliannya harus pas.
-  Memberikan pengamen cilik uang dua ratus rupiah? Dengan uang koin yang sudah jelek sekali karena terbawa saat baju dicuci.
-  Memarahi dan memasang muka yang bersungut-sungut karena menu masakan yang dipesan (misalnya, bakso) tidak sesuai dengan yang diinginkan. (Misalnya, kita minta baso urat, tapi dikasihnya baso telor, kita minta tidak pakai daun bawang, ternyata abangnya lupa dan ngasih daun bawang). Dan, yang parahnya mengatakan, “Yah, si Abang bego banget, makanya kalo pembeli mesen tuh didengerin masukin ke otak. Saya ga suka seledri tau!”
- Kita termasuk remaja terkenal dan kaya di kota kita, lantas kita hanya mau bermain dengan remaja yang kaya dan terkenal juga.
- Kita berwajah tampan/ cantik, dan kita hanya ingin punya pacar yang juga cantik/tampan? Kaya, terkenal. Padahal, hatinya belum tentu secantik/setampan wajahnya. Padahal, cara bicaranya belum tentu secantik/setampan wajahnya. Padahal, cara berpakaiannya belum tentu secantik/ setampan wajahnya (dalam hal ini, pakaian seksi, glamour, dan hanya mau yang bermerk hingga berjuta-juta).
- Menganggap orang ekonomi bawah adalah orang lemah di hari-hari kita.
- Menganggap orang yang sehari-hari naik angkot, metromini, itu adalah orang menengah bawah, tidak sejajar dengan kita yang punya ladang uang di rumah, bank, dan atm.
- Menganggap kalau kita sudah bawa mobil kemana-mana (walaupun masih kredit), itu adalah hal yang patut dikatakan Wah, dibandingkan dengan orang yang kemana-mana hanya bermotor atau naik umum.
- Menganggap kalau kita sudah ke luar negeri 5x dalam setahun, kita patut dibilang manusia tajir, dibanding dengan orang yang ke Dufan/ PRJ saja setahun juga belum tentu.

Sebenarnya, masih banyak hal lain yang mungkin pernah khilaf kita lakukan kepada orang lain. Tetapi, hal-hal di atas saya ambil sebagai contoh yang saya pikir sering terjadi di sekitar saya.

Saya suka berpikir, mengapa terkadang kita sering merasa diri kita hebat? Kita sering menonjolkan diri kita, supaya dianggap orang lain bahwa kita hebat. Lantas, kita menyombongkan hal itu tanpa sadar. Kita hidup di dunia ini sesungguhnya untuk beribadah, mencari ketenangan batin, dan kebaikan yang kita lakukan itu adalah bekal yang akan kita bawa di akhirat nanti, kan? Lantas, kenapa kita seringkali tidak menghargai orang lain yang sesungguhnya ternyata sangat menghargai kita? Kita seringkali mengabaikan orang lain yang ramah kepada kita? Lantas, apa alasan kita seringkali melupakan orang lain yang sesungguhnya mempedulikan diri kita? Lantas, kita langsung menganggap orang lain lemah hanya karena dia orang tidak punya? Lantas, apa alasan kita seringkali meremehkan orang di sekitar kita yang ternyata tulus dengan kita?

Menghargai Orang Lain. Tidak Keluar Uang, Tapi Sangat Sulit Dilakukan.

Kita siapa?
Mereka siapa?
Sama-sama makan nasi dan minum air putih, kan?
Sama-sama mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan hidup, kan?
Sama-sama bernapas dengan oksigen, kan?
Sama-sama berdoa siang malamnya, kan?
Sama-sama ingin mendapat kebahagiaan, kan?
Sama-sama ingin tertawa, kan?
Sama-sama mengusap air mata saat menangis, kan?
Sama-sama akan balik kembali kepada Allah SWT pada akhirnya.

Pembaca sekalian, yang hanya bisa katakan di sini, yaitu lihatlah orang lain dengan kedua mata kita. Lihatlah orang lain layaknya kita ingin dilihat oleh orang lain. Lihatlah diri sendiri terlebih dahulu, sebelum kita melihat orang lain. Dan, yang paling penting jangan pernah lupa kita mengucapkan terima kasih kepada siapa pun yang telah membantu kita walaupun sekecil apapun bantuan yang diberikan olehnya. Allah SWT akan menghargai diri kita, jika kita juga bisa menghargai orang lain di sekitar kita. Karena, Allah sayang sekali dengan hamba-Nya yang bisa menghargai sesamanya di dunia.

Semoga bermanfaat..
Wassalamualaikum.
D.A.F

No comments: